Selasa, 18 Juni 2013

TERAPI PUBLIK " SAMPAH"



TERAPI PUBLIK /MASSAL
PADA MASYARAKAT INDONESIA TENTANG SAMPAH
 ( Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Psikologi Komunikasi ) 
Dosen pembimbing:
Drs.Yahya, M.A

 Disusun oleh:
Indra Rakhmawati         (10410108)
                                               
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
FAKULTAS PSIKOLOGI
Juni, 2013

I.                   LATAR BELAKANG
Sampah merupakan masalah public yang belum terselesaikan di Indonesia hingga saat ini. Kapasitas Tempat Pembuangan Sampah (TPA) yang tersedia dengan jumlah sampah yang ada tiap hari nya tidak sepadan.  Di Garut  Sejumlah warga mengeluhkan tumpukan sampah yang menimbulkan bau tak sedap menumpuk di beberapa titik pinggiran jalan wilayah kota,. ( antaranews. Minggu, 7 April 2013 06:32 WIB.
Berita diatas adalah salah satu masalah yang sering dijumpai. Bukan hanya terjadi di garut, manun sering kali terjadi di kota-kota lain. Sampah yang tidak dikondisikan dengan benar, baik oleh pihak pemerintah maupun pihak masyarakat sendiri.  Masyarakat sendiri memiliki kesadaran yang rendah dalam hal menjaga kebersihan lingkungan. Sering kali ditemui sampah berserakan dimana- mana. Kesadaran untuk membuang sampah ditempatnya tidak dimiliki oleh masyarakat Indonesia. Padahal sudah disediakan tempat samapah dimana-mana. Dengan jarak lima meter pun mereka memilih untuk membuang sampah di sembarangan, dari pada harus berjalan menuju tempat sampah yang jaraknya hanya lima meter dengannya.
Membuang sampah di sungai, juga sudah menjadi tradisi masyarakat Indonesai. Padahal di tempat-tempat umum sering dijumpai semboyan-semboyan, atau tulisan-tulisan yang menyuruh kita untuk membuang sampah  di tempatnya namun tulisan-tulisan itu seperti menjadi hiasan dinding semata.

II.                   DIAGNOSA MASALAH
Dalam menangani masalah sampah, pemerintah sudah melakukan terapi public, dengan menempelkan tulisan-tulisan untuk mengajak masyarakat membuang sampah pada tempatnya, dan juga mensosialisasikan pentingnya membuang sampah di tempat sampah lewat media-media elektronik. Namun upaya-upaya tersebut tidak berhasil membuat masyarakat untuk mau membuang sampah pada tempatnya. Kebiasaan masyarakat tetap untuk membuang sampah pada tempatnya tetap tidak berubah. Untuk itu perlu adanya terapi yang lain untuk mengubah kebiasan masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya.

1.             REFIEW MATERI
Teori Habit
Kebiasaan (habit) adalah satu-satunya elemen dalam teori Dollard dan Miller yang memiliki sifat struktural. Habit adalah ikatan atau asosiasi antara stimulus dengan respon, yang relative stabil dan bertahan lama dalam kepribadian. Karena itu gambaran kebiasaan seseorang tergantung pada event khas yang menjadi pengalamannya. Namun susunan kebiasaan itu bersifat sementara. Maksudnya, kebiasaan hari ini mungkin berubah berkat pengalaman baru keesokanharinya.
Dollard dan Miller juga mempertimbangkan dorongan sekunder (secondary drives), seperti rasa takut sebagai bagian kepribadian yang relative stabil. Dorongan primer (primary drives) dan hubungan stimulus-respon yang bersifat bawaan (innate) juga menyumbang struktur kepribadian, walaupun kurang penting dibanding habit dan dorongan sekunder, karena dorongan primer dan hubungan stimulus-respon bawaan ini menentukan taraf umum seseorang, bukan membuat seseorang menjadi unik.
Empat Fungsi
·  Reasoning memungkinkan orang menguji alternatif respon tanpa nyata-nyata mencobanya, sehingga menyingkat proses memilih tindakan, memberi kemudahan untuk merencanakan, menekankan tindakan pada masa yang akan datang, mengantisipasi respon agar menjadi lebih efektif.
·  Drive adalah stimulus (dari dalam diri organisme) yang mendorong terjadinya kegiatan tetapi tidak menentukan bentuk kegiatannya. Kekuatan drives tergantung kekuatan stimulus yang memunculkannya. Semakin kuat drivenya, semakin kuat tingkah laku yang dihasilkannya. Secondary drives atau drives yang dipelajari/diperoleh berdasarkan primary drives. Sesudah secondary drives dimiliki, itu akan memotivasi untuk mempelajari respon baru seperti fungsi dari primary drives.
·  Cue adalah stimulus yang member petunjuk perlunya dilakuakn respon yang sesungguhnya. Pengertian cuemirip dengan pengertian realitas subjektif dari Rogers, yakni cue adalah petunjuk yang ada pada stimulus sepanjang pemahaman subjektif individu.
·  Response adalah aktivitas yang dilakukan seseorang. Sebelum suatu respon dikaitkan dengan suatu stimulus, respon itu harus terjadi terlebih dahulu. Dalam situasi tertentu, suatu stimulus menimbulkan respon-respon yang berurutan, disebut initial hierarchy of response. Belajar akan menghilangkan beberapa respon yang tidak perlu, menjadi resultant hierarchy yang lebih efektif mencapai tujuan yang diharapkan.
·  Reinforcement maksudnya agar belajar terjadi, harus ada reinforcement atau hadiah. Dollard dan Miller mendefinisikan reinforcement sebagai drive pereda dorongan (drive reduction). Event yang hanya meredakan sebentar stimuli pendorongnya akan memperkuat respon apapun yang terlibat. Bisa dikatakan, reduksi drivemenjadi syarat mutlak dari reinforcement. Hipotesis mengenai reduksi drive ini menimbulkan kontroversi, dan Miller sendiri terus berusaha mencari pembenarannya.
Terapi Behavior
Terapi perilaku (Behaviour therapy, behavior modification) adalah pendekatan untuk psikoterapi yang didasari oleh Teori Belajar (learning theory). Tujuan umum terapi tingkah laku adalah menciptakan kondisi-kondisi baru bagi proses belajar. Dasar alasannya ialah bahwa segenap tingkah laku adalah dipelajari (learned), termasuk tingkah laku yang maladaptif. Jika tingkah laku neurotik learned, maka ia bisa unlearned (dihapus dari ingatan), dan tingkah laku yang lebih efektif bisa diperoleh. Terapi tingkah laku pada hakikatnya terdiri atas proses penghapusan hasil belajar yang tidak adaptif dan pemberian pengalaman-pengalaman belajar yang di dalamnya terdapat respons-respons yang layak, namun belum dipelajari;
•    Meningkatkan perilaku, atau
•    Menurunkan perilaku
•    Meningkatkan perilaku:
•    Reinforcement positif: memberi penghargaan thd perilaku
•    Reinforcement negatif: mengurangi stimulus aversi
•    Mengurangi perilaku:
•    Punishment: memberi stimulus aversi
•    Respons cost: menghilangkan atau menarik reinforcer
•    Extinction: menahan reinforcement
Fungsi dan Peran Terapis
Terapis tingkah laku harus memainkan peran aktif dan direktif dalam pemberian treatment, yakni terapis menerapkan pengetahuan ilmiah pada pencarian pemecahan masalah-masalah manusia, para kliennya. Terapi tingkah laku secara khas berfungsi sebagai guru, pengarah, dan ahli dalam mendiagnosis tingkah laku yang maladaptif dan dalam menentukan prosedur-prosedur penyembuhan yang diharapkan, mengarah pada tingkahlaku yang baru dan adjustive.
Bentuk bentuk terapi Perilaku
Bentuk-bentuk terapi perilaku yang kami gunakan dalam terapi public, antara lain:
Modifikasi Perilaku
Modifikasi perilaku, menggunakan teknik perubahan perilaku yang empiris untuk memperbaiki perilaku, seperti mengubah perilaku individu dan reaksi terhadap rangsangan melalui penguatan positif dan negatif.
Penggunaan pertama istilah modifikasi perilaku nampaknya oleh Edward Thorndike pada tahun 1911. Penelitian awal tahun 1940-an dan 1950-an istilah ini digunakan oleh kelompok penelitian Joseph Wolpe, teknik ini digunakan untuk meningkatkan perilaku adaptif melalui reinforcement dan menurunkan perilaku maladaptive melalui hukuman (dengan penekanan pada sebab).
Salah satu cara untuk memberikan dukungan positif dalam modifikasi perilaku dalam memberikan pujian, persetujuan, dorongan, dan penegasan; rasio lima pujian untuk setiap satu keluhan yang umumnya dipandang sebagai efektif dalam mengubah perilaku dalam cara yang dikehendaki dan bahkan menghasilkan kombinasi stabil.
Pengondisian operan
Tingkah laku operan adalah tingkah laku yang memancar yang menjadi ciri organisme aktif. Ia adalah tingkah laku beroperasi di lingkungan untuk menghasilkan akibat-akibat. Tingkah laku operan merupakan tingkah laku paling berarti dalam kehidupan sehari-hari, yang mencakup membaca, berbicara, berpakaian, makan dengan alat-alat makan, bermain, dsb.
Menurut Skinner (1971) jika suatu tingkah laku diganjar maka probabilitas kemunculan kembali tingkah laku tersebut di masa mendatang akan tinggi. Prinsip penguatan yang menerangkan pembentukan, memelihara, atau penghapusan pola-pola tingkah laku, merupakan inti dari pengondisian operan. Berikut ini uraian ringkas dari metode-metode pengondisian operan yang mencakup: perkuatan positif, pembentukan respons, perkuatan intermiten, penghapusan, pencontohan, dan token economy.
Ø   Perkuatan positif, adalah pembentukan suatu pola tingkah laku dengan memberikan ganjaran atau perkuatan segera setelah tingkah laku yang diharapkan muncul. Cara ini ampuh untuk mengubah tingkah laku. Pemerkuat-pemerkuat, baik primer maupun sekunder, diberikan untuk rentang tingkah laku yang luas. Pemerkuat-pemerkuat primer memuaskan kebutuhan-kebutuhan fisiologis. Contoh pemerkuat primer adalah makanan dan tidur atau istirahat. Pemerkuat-pemerkuat sekunder, yang memuaskan kebutuhan kebutuhan psikologis dan sosial, memiliki nilai karena berasosiasi dengan pernerkuat-pemerkuat primer.
Ø   Pembentukan Respon, adalah tingkah laku yang sekarang secara bertahap diubah dengan memperkuat unsur-unsur kecil dari tingkah laku baru yang diinginkan secara berturut-turut sampai mendekati tingkah laku akhir. Pembentukan respons berwujud pengembangan suatu respons yang pada mulanya tidak terdapat dalam perbendaharaan tingkah laku individu. Perkuatan sering digunakan dalam proses pembentukan respons ini. jadi, misalnya, jika seorang guru ingin membentuk tingkah laku kooperatif sebagai ganti tingkah laku kompetitif, dia bisa memberikan perhatian dan persetujuan kepada tingkah laku yang diinginkannya itu. Pada anak autistik yang tingkah laku motorik, verbal, emosional, dan sosialnya kurang adaptif, terapis bisa membentuk tingkah laku yang lebih adaptif dengan memberikan pemerkuat-pemerkuat primer maupun sekunder.
Ø   Perkuatan intermiten, diberikan secara bervariasi kepada tingkah laku yang spesifik. Tingkah laku yang dikondisikan oleh perkuatan intermiten pada umumnya lebih tahan terhadap penghapusan dibanding dengan tingkah laku yang dikondisikan melalui pemberian perkuatan yang terus-menerus. Dalam menerapkan pemberian perkuatan pada pengubahan tingkah laku, pada tahap-tahap permulaan terapis harus mengganjar setiap terjadi munculnya tingkah laku yang diinginkan, sesegera mungkin saat tingkah laku yang diinginkan muncul. Dengan cara ini, penerima perkuatan akan belajar, tingkah laku spesifik apa yang diganjar. Bagaimanapun, setelah tingkah laku yang diinginkan itu meningkat frekuensi kemunculannya, frekuensi pemberian perkuatan bisa dikurangi.
Ø   Penghapusan, adalah dengan landadsan bahwa apabila suatu respons terus-menerus dibuat tanpa perkuatan, maka respons tersebut cenderung menghilang. Dengan demikian, karena pola-pola tingkah laku yang dipelajari cenderung melemah dan terhapus setelah suatu periode, cara untuk menghapus tingkah laku yang maladaptif adalah menarik perkuatan dari tingkah laku yang maladaptif itu. Penghapusan dalam kasus semacam ini boleh jadi berlangsung lambat karena tingkah laku yang akan dihapus telah dipelihara oleh perkuatan intermiten dalam jangka waktu lama. Wolpe (1969) menekankan bahwa penghentian pemberian perkuatan harus serentak dan penuh. Misalnya, jika seorang anak menunjukkan kebandelan di rumah dan di sekolah, orang tua dan guru si anak bisa menghindari pemberian perhatian sebagai cara untuk menghapus kebandelan anak tersebut. Pada saat yang sama perkuatan positif bisa diberikan kepada si anak agar belaj.u tingkah laku yang diinginkan.
Ø   Modeling, metodenya dengan mengamati seorang  kemudian mencontohkan tingkah laku sang model.  Bandura(1969), menyatakan bahwa belajar yang bisa diperoleh melalui pengalaman langsung, bisa juga diperoleh secara tidak langsung dengan mengamati tingkah laku orang lain berikut konsekuensi-konsekuensinya. Jadi, kecakapan-kecakapan sosial tertentu bisa diperoleh dengan mengamati dan mencontoh tingkah laku model-model yang ada. Juga reaksi-reaksi emosional yang terganggu yang dimiliki seseorang bisa dihapus dengan cara orang itu mengamati orang lain yang mendekati objek-objek atau situasi-situasi yang ditakuti tanpa mengalami akibat-akibat yang menakutkan dengan tindakan yang dilakukannya. Pengendalian diri pun bisa dipelajari melalui pengamatan atas model yang dikenai hukuman. Status dan kehormatan model amat berarti dan orang-orang pada umumnya dipengaruhi oleh tingkah laku model-model yang menempati status yang tinggi dan terhormat di mata mereka sebagai pengamat.
Ø   Token Ekonomi, metode token economy dapat digunakan untuk membentuk tingkah laku apabila persetujuan dan pemerkuat-pemerkuat yang tidak bisa diraba lainnya tidak memberikan pengaruh. Dalam token economy, tingkah laku yang layak bisa diperkuat dengan perkuatan-perkuatan yang bisa diraba (tanda-tanda seperti kepingan logam) yang nantinya bisa ditukar dengan objek-objek atau hak istimewa yang diingini. Metode taken economy sangat mirip dengan yang dijumpai dalam kehidupan nyata, misalnya, para pekerja dibayar untuk hasil pekerjaan mereka.


2.             PERENCANAAN KEGIATAN TERAPI
Untuk membentuk kebiasaan masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya, dan mau memperhatikan kebersihannya, kami menggunakan terapi behavior dengan modifikasi perilaku untuk mengubah habit.
Desain Rancangan Terapi
Langkah pertama
Sosialisasi kepada masyarakat
Sosialisasi ini, bertujuan untuk memberi tahu masyarakat pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, dan mengajak mereka agar tidak membuang sampah di sembarangan tempat. Dan juga memberitahu sangsi/ hukuman yang akan diterima masyarakat jika mereka tidak membuang sampah pada tempatnya. Hukuman disesuaikan dengan kebijakan pemerintah, yang dirancang dalam undang-undang.
Sosialisasi ini, dilakukan lewat media-media cetak, elektronik maupun terjun langsung ke kawasan masyarakat. Seperti penyuluhan dalam di balai-balai desa maupun kota.

Langkah kedua
Menyediakan fasilitas
Menyediakan fasilitas seperti tempat pembuangan sampah dan ditempatkan yang minimal ada pada jarak 15 m antara tempat sampah. Mudah di jangkau oleh masyarakat, baik di jalan raya, tempat-tempat umum, tempat sampah disetiap rumah. Dan juga petugas sampah yang memiliki tanggung jawab dalam pekerjaannya.
Kamera setiap sudut area, untuk memantau jika ada yang membuang sampah disembarang tempat, dan petugas yang bertugas untuk menegur/ memberi sangsi pada orang yang membuang sampah sembarangan.
Langkah ketiga
Mengadakan persaingan antar daerah
Setiap daerah kita arahkan untuk bersaing dengan daerah lain, untuk menjaga kebersihan daerahnya masing-masing. Dan setiap daerah yang mampu menjada kebersihan lingkungannya, akan diberi penghargaan.
Langkah keempat
Berkomunikasi lewat tulisan
Di setiap sudut area atau tempat-tempat umum, kita menempelkan pamphlet, poster maupun benner tentang anjuran untuk menjaga kebersihan dengan membuang sampah ditempatnya. Dan pemberi tahuan sangsi tegas jika membuang sampah disembarangan tempat.
Langkah kelima
Fasilitas pada transportasi umum
Setiap alat transportasi umum, seperti bis,kereta. Disediakan tempat sampah di dalamnya. Dan pemberitahuan pada penumpang untuk membuang sampah ditempat  yang telah disediakan. Jika dilanggar akan dikenai denda.
Langkah keenam
Petugas khusus
Disetiap daerah, tempat-tempat umum seperti pasar,terminal,dll. Selalu ada petugas khusus yang bertanggung jawab atas kebersihan tempat/ daerah tersebut. Petugas juga bisa menegur atau member sangsi pada orang yang membuang sampah disembarangan temapat.
Langkah ketujuh
Pantauan
Selalu ada pantauan setiap satu bulan disetiap daerah, maupun tempat-tempat umum. Petugas yang bertugas akan melaporkan semuanya pada pemantauan, dan mengecek kawasan. Jika ada salah satu yang lalai dalam tugasnya maka akan diberi sangsi tegas.

Rancangan ini menggunakan system reinforcement dan punishment. Masyarakat Indonesia memerlukan hukum/sangsi yang tegas agar masyarakat mau dan memiliki kesadaran diri akan kepedulian terhadap lingkungan, khususnya dalam hal sampah.
·                DESAIN KOMUNIKASI YANG DIGUNAKAN
Dalam terapi ini, desain komunikasi yang digunakan adalah: komunikasi verbal maupun non verbal. Komunikasi verbal dengan adanya sosialisasi/penyuluhan secara langsung kepada masyarakat, pemantauan langsung terhadap kawasan. Peneguran oleh petugas kepada masyarakat yang membuang sampah di sembarangan tempat. 
Komunikasi non verbal diberikan denga cara penempelan pamflet, poster maupun benner tentang ajakan untuk menjaga kebersihan dan membuang sampah ditempatnya.
Komukasi menjadi media utama penghubung ke jaringan masyarakat luas. Tanpa komunikasi, program apapun tidak akan berjalan dengan lancar, atau bahkan tidak akan berjalan sama sekali.

Analisis Jurnal


Tugas eksperiment
Analisis jurnal

Johanna Natalia
2008
Preferred Music Anxiety, and pregnant women
Anima, Indonesian psychological Journal

variable Penelitian
Variabel bebasnya: music
Variabel terikatnya: kecemasan ibu hamil
Definisi Operational
Musik
Music digunakan sebagai terapi yang efektif mengurangi kecemasan pada kehamilan remaja. terapi music membuat hubungan baik antara ibu dan anak yang ada dikandungannya. Terapi music juga untuk mempersiapkan wanita untuk kuat saat melahirkan nanti.
Kecemasan Ibu Hamil:
Perasaan takut yang dialami oleh wanita Hamil. Pada umumnya ketakutan ini tentang masa depan. Mereka memikirkan rasa sakit saat kelahiran,rasa sakit saat air ketuban pecah, rasa takut aka rumah sakit, dan kondisi bayi setelah kelahiran, dan rasa ketakutan karean mungkin mereka akan banyak berada dirumah untuk mengurusi bayi mereka dan berhenti bekerja dan kehilangan hubungan dengan parnert kerja mereka.
Gambaran subjek penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah ibu hamil dengan usia kehamilan minggu 33 sebanyak 59 ibu hamil, di BKIA RS.Katholic St.Centius Paulo Surabaya, Indonesia. Subjek dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok eksperimen 30 ibu hamil, kelompok control 29 ibu hamil.

Gambarkan proses eksperiment yang dilakukan
Tujuan: penelitian ini bertujuan untuk  mengetahui pengaruh music yang disukai terhadap kecemasan ibu hamil sejak usia kehamilan minggu ke-33 sampai dengan persalinan.
waktu eksperimen: 3 kali per minggu dengan 30 menit per pertemuan dari 33 minggu kehamilan sampai kelahiran.
cara eksperimen:  penelitiaan ini menggunakan 50 subjek yaitu ibu hamil yang ada di BKIA RS.Katholic St.Centius Paulo Surabaya, Indonesia. Dengan pemilihan subjek secara random/acak. Dibagi menjadi Dua grup (kelompok eksperiment dan kelompok control) diberi pre test dan post test. Hasil dari test tersebut kemudian dibandingkan dan dianalisis dengan at-test,ANOVA, dan Sign Test. Kelompok eksperimen terdiri dari 30 subjek dengan pemberian perlaku (didengarkan music yang disukai) 3 kali per minggu selama 30menit, dalam 33 minggu. Kelompok control terdiri dari 29 subjek dengan hanya melakukan pertemuan saja tanpa perlakuan. Kelompok control melakukan pertemuan dua kali per minggu. Pertemuan waktunya disamakan dengan waktu mereka melakukan midwives. Jadwal untuk kelompok control adalah hari rabu jam 07.00-08.00 am dan untuk jadawal kelompok eksperiment adalah hari jum’at jam 07.00-08.00 am.
 alat yang digunakan : dalam menghitung taraf kecemasan ibu hamil penelitian ini menggunankan (STAI) State trait anxiety inventory. Dan untuk menganalisa data hasil tes menggunakan at-test,ANOVA, dan Sign Test.
pelaksana eksperimen: Johanna Natalia
Kapan pelaksanaan pengukuran: Pengukuran ini diberikan enam kali pada minggu ke 33,34,35,36,37,38 masa kehamilan dan tiga kali pada rapat grup.
evaluasi
kelebihan
• Penelitian ini menarik karena peneliti menyajikan music untuk mengatasi kecemasan wanita hamil.
kelemahan
• Seharusnya waktu yang dilakukan pada kelompok control dan eksperimen itu sama. Walaupun kelompok control tidak diberi perlakuan.
• Dalam pemberian perlakuan, peneliti tidak menentukan jenis music apa yang digunakan untuk eksperiment. Hanya menyebutkan music yang disukai saja. Jenis music memiliki efek yang berbeda-beda. Dan hal ini bisa mempengaruhi validitas internal penelitian itu sendiri.

Kamis, 06 Juni 2013

rancangan penelitian "MOTIV ANARKIS PARA DEMONSTRAN"

       I.            Latar Belakang
Femomena demonstrasi sedang hangat-hangatnya dibicarakan beberapa saat ini. Kebijakan pemerintah yang hendak menaikkan BBM menuai protes keras dari kalangan masyarakat, kususnya para mahasiswa. Di berbagai daerah di tanah air terjadi aksi demonstrasi yang dilakukan oleh mahasiswa-mahasiswa. Di Jakarta, Surabaya, Makasar dan lain-lain. Namun sangat disayangkan, demonstrasi yang mereka lakukan disertai tindakan anarkis yang pada akhirnya meresahkan masyarakat. para demonstran merusak pos polisi, memblokir jalan raya, menjarah toko serba ada,dll. Tindakan anarkis seperti ini sangat mengecewakan. Dengan alasan inilah peneliti hendak meneliti tentang tindakan anarkis yang terjadi saat demonstrasi.
    II.            Definisi Konsep
anarkis dalam kamus bahasa Indonesa diartika sebagai  pemberontak, pengacau, perusuh. Yang mana pengertian ini cenderung mengarah pada tindak kekerasan. Anarkisme berasal dari kata dasar "anarki" dengan imbuhan -isme. Kata anarki merupakan kata serapan dari anarchy (bahasa Inggris) atau anarchie (Belanda/Jerman/Perancis), yang berakar dari kata bahasa Yunani, anarchos/anarchein. Ini merupakan kata bentukan a- (tidak/tanpa/nihil/negasi) yang disisipi /n/ dengan archos/archein (pemerintah/kekuasaan atau pihak yang menerapkan kontrol dan otoritas - secara koersif, represif, termasuk perbudakan dan tirani); maka, anarchos/anarchein berarti "tanpa pemerintahan" atau "pengelolaan dan koordinasi tanpa hubungan memerintah dan diperintah, menguasai dan dikuasai, mengepalai dan dikepalai, mengendalikan dan dikendalikan, dan lain sebagainya". Bentuk kata "anarkis" berarti orang yang mempercayai dan menganut anarki, sedangkan akhiran -isme sendiri berarti paham/ajaran/ideologi.
“
"Anarkisme adalah sebuah sistem sosialis tanpa pemerintahan. Ia dimulai di antara manusia, dan akan mempertahankan vitalitas dan kreativitasnya selama merupakan pergerakan dari manusia" (Peter Kropotkin)

“
"Penghapusan eksploitasi dan penindasan manusia hanya bisa dilakukan lewat penghapusan dari kapitalisme yang rakus dan pemerintahan yang menindas" (Errico Malatesta)

 III.            Definisi Operasional
menurut Peter Kropotkin, salah seorang propagandis anarki (sme) yang paling berpengaruh, menulis definisi anarkisme untuk Ensiklopedia Britannica : “[…] dimana masyarakat yang dicita-citakan adalah yang tanpa pemerintahan—keharmonisan dalam masyarakat dicapai bukan dengan mematuhi undang-undang, atau suatu otoritas, namun melalui kesepakatan bebas yang dicapai diantara berbagai kelompok, wilayah dan profesi, yang bergabung secara sukarela—untuk produksi dan konsumsi—dan juga untuk pemenuhan berbagai macam kebutuhan dan aspirasi mahluk yang beradab.” (Tjuan Gempa.Anarki Dan Anarkis. Posted on May 21, 2008)
Anarkisme adalah teori politik yang bertujuan untuk menciptakan masyarakat tanpa hirarkis (baik dalam politik, ekonomi, maupun sosial). Para Anarkis berusaha mempertahankan bahwa anarki, ketiadaan aturan-aturan, adalah sebuah format yang dapat diterapkan dalam sistem sosial dan dapat menciptakan kebebasan individu dan kebersamaan sosial. Anarkis melihat bahwa tujuan akhir dari kebebasan dan kebersamaan sebagai sebuah kerjasama yang saling membangun antara satu dengan yang lainnya. Atau, dalam tulisan Bakunin yang terkenal:
“
"kebebasan tanpa sosialisme adalah ketidakadilan, dan sosialisme tanpa kebebasan adalah perbudakan dan kebrutalan"[1]

 IV.            Bleu Print + Skala
Bleu print
Aspek
Persebaran aitem
Favauruable
Unfavaurable
pemberontakan

1,2,5,6,7
3,4,8,9,10
Kekerasan
11,12,15,17,19
13,14,16,18,20
motiv

21,23,25,27,30
22,24,26,28,29

skala
No
pernyataan
SS
S
ST
STS
1
Saya ikut demo menentang kebijakan pemerintah





2
Saya mengajak teman-teman untuk berdemo





3
Saya mencegah terjadinya demo




4
Saya tidak mau  ikut demo





5
Saya mendukung dengan adanya demo





6
Saya memilih menyumbangkan uang saya ke panti asuhan dari pada buat demo




7
Saya mengeluarkan  uang untuk membiayai demo





8
Saya rela meninggalkan kuliah untuk ikut demo




9
Waktu adalah uang. Akan sia-sia jika waktu itu hanya digunakan untuk hal yang tidak penting




10
Saya menjadi orang yang merugi jika ikut demo.




11
Saat demo saya membawa senjata tajam





12
Biasanya saat berdemo ,ada yang terluka





13
Saat demo saya tidak pernah membawa senjata tajam





14
Saat demo tidak ada yang terluka





15
Saat berdemo diwarnai dengan kerusuhan dan merusak fasilitas umum





16
Demo berjalan dengan aman dan damai





17
Saat berdemo,Saya  memblokir jalan utama agar pemerintah mendengarkan ispirasi saya.





18
Saya lebih suka menyampaikan ispirasi saya lewat tulisan untuk mengkritik pemerintah.





19
saya suka berkata kasar saat berdemo




20
Saya tidak suka perkataan yang kasar




21
Untuk mendapatkan kebijakan yang baik dari pemirintah, saya melakukan demo




22
Saya lebih suka menjadi warga negara yang patuh, dan mempersiapkan sikap dalam menghadapi kebijakan pemerintah.





23
Saya bekewajiban untuk menolak kebijakan pemerintah yang tidak bijak.





24
Saya lebih suka diam melihat kebijakan pemerintah





25
Saya melakuka demo untuk membela kepentingan rakyat





26
Bagi saya dari pada berdemo, lebih baik melakukan pekerjaan rutinitas




27
Pemerintah adalah penjajah rakyat




28
Pemerintah adalah pengayom rakyat




29
Menurut saya pemerintah cukup bijak dalam mengambil kebijakan.




30
Saya pikir, pemerintah akan bertindak semena-mena jika rakyatnya tidak berdemo menentang kebijakannya.






       I.            Hasil analisis
Reliability Statistics
Cronbach's Alpha
Cronbach's Alpha Based on Standardized Items
N of Items
.782
.806
30

Skala alpa: 0,782

Item-Total Statistics

Scale Mean if Item Deleted
Scale Variance if Item Deleted
Corrected Item-Total Correlation
Squared Multiple Correlation
Cronbach's Alpha if Item Deleted
VAR00001
60.8980
59.177
.571
.
.762
VAR00002
61.2449
60.397
.588
.
.764
VAR00003
60.3061
65.467
.050
.
.787
VAR00004
61.0204
59.229
.578
.
.762
VAR00005
60.4898
65.380
.088
.
.784
VAR00006
61.3673
61.487
.490
.
.768
VAR00007
61.3061
58.759
.751
.
.756
VAR00008
61.4898
59.672
.625
.
.761
VAR00009
61.3469
63.690
.201
.
.780
VAR00010
60.6327
63.654
.200
.
.780
VAR00011
61.6327
61.779
.556
.
.768
VAR00012
60.1224
66.776
-.063
.
.794
VAR00013
61.0612
61.184
.295
.
.776
VAR00014
60.2041
64.541
.104
.
.786
VAR00015
60.2857
66.417
-.048
.
.797
VAR00016
60.8163
66.153
-.028
.
.795
VAR00017
60.9184
61.160
.361
.
.772
VAR00018
61.0816
63.410
.255
.
.778
VAR00019
61.4490
62.169
.336
.
.774
VAR00020
61.2857
62.250
.330
.
.774
VAR00021
60.7755
60.428
.511
.
.766
VAR00022
60.9796
60.937
.463
.
.768
VAR00023
59.8367
68.514
-.201
.
.798
VAR00024
60.0000
65.417
.096
.
.783
VAR00025
60.2653
62.449
.285
.
.776
VAR00026
60.9388
60.392
.638
.
.763
VAR00027
60.5714
61.750
.409
.
.771
VAR00028
60.7143
61.875
.394
.
.771
VAR00029
60.2653
63.449
.239
.
.778
VAR00030
60.1429
63.375
.261
.
.777

Aitem yang gugur menggunakan standar 0.260
Aitem no 3,5,9,10,12,14,15,16,18,23,24,29
                   
       I.            Bleu Print dan Skala baru
Aspek
Persebaran aitem
Favauruable
Unfavaurable
pemberontakan

1,2,5,6,7
4,8,9,10
Kekerasan
11, 15,17,19
16,18,20
motiv

21, 25,27,30
22, 26,28,29

1
Saya ikut demo menentang kebijakan pemerintah





2
Saya mengajak teman-teman untuk berdemo





3
Saya tidak mau  ikut demo





4
Saya mendukung dengan adanya demo





5
Saya memilih menyumbangkan uang saya ke panti asuhan dari pada buat demo




6
Saya mengeluarkan  uang untuk membiayai demo





7
Saya rela meninggalkan kuliah untuk ikut demo




8
Waktu adalah uang. Akan sia-sia jika waktu itu hanya digunakan untuk hal yang tidak penting




9
Saya menjadi orang yang merugi jika ikut demo.




10
Saat demo saya membawa senjata tajam





11
Saat demo saya tidak pernah membawa senjata tajam





12
Saat berdemo,Saya  memblokir jalan utama agar pemerintah mendengarkan ispirasi saya.





13
Saya lebih suka menyampaikan ispirasi saya lewat tulisan untuk mengkritik pemerintah.





14
saya suka berkata kasar saat berdemo




15
Saya tidak suka perkataan yang kasar




16
Untuk mendapatkan kebijakan yang baik dari pemirintah, saya melakukan demo




17
Saya lebih suka menjadi warga negara yang patuh, dan mempersiapkan sikap dalam menghadapi kebijakan pemerintah.





18
Saya melakuka demo untuk membela kepentingan rakyat





19
Bagi saya dari pada berdemo, lebih baik melakukan pekerjaan rutinitas




20
Pemerintah adalah penjajah rakyat




21
Pemerintah adalah pengayom rakyat




22
Menurut saya pemerintah cukup bijak dalam mengambil kebijakan.




23
Saya pikir, pemerintah akan bertindak semena-mena jika rakyatnya tidak berdemo menentang kebijakannya.





    II.            Kesimpulan
Setelah dilakukan pembaruan dalam skala dengan menggugurkan aitem aitem yang tidak dapat diselamatkan. Skala yang dulunya mempunyai tingkat eror yang cukup besar kini menjadi berkurang.
Reliability Statistics
Cronbach's Alpha
Cronbach's Alpha Based on Standardized Items
N of Items
.782
.806
30
Table ini adalah angka skala alpha yang lama.
Reliability Statistics
Cronbach's Alpha
Cronbach's Alpha Based on Standardized Items
N of Items
.865
.873
23
Angka skala alpha baru.
Setelah diperbarui. Dan aitem-aitem yang tidak bisa diselamatkan digugurkan angka skala alpa berubah, dari 0.782 menjadi 0.865. sehingga ingkat eror aitem berkurang dan reabilitaspun menjadi lebih tinggi.
Dari aitm aitem tersebut, kita bisa disimpulkan bahwasanya,dari 50 subyek yang mengisi skala, banyak yang tidak menyukai aksi anarkisme dalam demonstrasi.mereka menginginkan demonstrasi yang aman dan tenang, namun tetap bisa menyalurkan inspirasi mereka.